• SMK NEGERI 3 BATAM
  • Kualitas dan Profesional (SMK Bisa SMK Hebat)

GURU BUKAN DEWA

Oleh: ELvi Suzia Rita, S.Pd.Gr.

Berbicara mengenai guru tidak akan pernah ada habisnya. Guru selalu menarik untuk dikaji dari segala sisi. Keberadaan guru merupakan faktor Condisio Sine Quanon. Guru  merupakan komponen penting dalam pembejaran tidak mungkin digantikan oleh komponen manapun. Sumber Daya Manusia (SDM) yang  berkualitas tidak akan pernah tercipta dengan ucapan bimsalabim abracadabra. Tetapi mereka lahir dari proses pendidikan yang diracik oleh guru. Analogi guru sebagai pelita dalam kegelapan memang benar adanya.

Guru adalah  public figure di sekolah. Segala tindak tanduk mereka sangat diperhatikan mengingat mereka akan ‘digugu dan ditiru’, di mana jika salah, maka murid juga bisa berbuat hal yang sama dengan dalih mencontoh dari gurunya. Bahkan sekarang, guru sudah seperti sahabat sendiri.

Dalam mentransfer pengetahuan kepada muridnya, guru harus bisa membina, melatih, mendidik, dan membimbing peserta didiknya. Bahkan guru juga berperan pula menyelesaikan  ‘sengketa’ siswa jika ada.

Untuk menjalankan tugas guru yang ‘mahaberat’ itu guru harus menjadi ‘manusia ajaib’ yang senantiasa mengembangkan diri dan memperbarui kompetensinya. Baik itu kompetensi pedagogik, sosial, maupun kompetensi profesional. Jika tidak, guru tidak mampu melaksanakan proses didaktik dan metodik diruang kelas. Dalam artian, tidak cakap mengajar, tidak cakap memilih strategi dan metode serta mengemas konten pembelajaran dengan baik, menguasai ruang kelas, dan tidak bisa mentransfer ilmu.

Namun ironisnya, tidak jarang kita temui kenyataan di kelas dalam menciptakan pembelajaran yang interaktif, bahwa guru super hebat tersebut dibarengi dengan super ego. Seolah kebenaran mutlak hanya ada pada guru, siswa hanya sebagai objek, bukan subjek pendidikan. Misalnya, ketika seorang guru menolak dikritik oleh siswanya. Bahkan terkesan ‘ngotot’ dengan argumentasinya lah yang paling benar di kelas (mungkin dengan alasan menjaga image). Masalah tidak berhenti di situ, tetapi berlanjut sampai ke penilaian. Pada akhirnya siswa tersebut mendapat nilai buruk karena pernah menyanggah argumentasi guru tersebut. Apakah ini yang dinamakan hidup berdemokrasi dalam pendidikan?

Saya teringat dengan salah satu tulisan Soe Hok Gie, seorang aktivis mahasiswa di era 60-an, terkenal dengan sikap idealisnya yang kritis. Dalam catatan seorang demonstran, ia menuliskan “guru yang tidak tahan kritik, boleh masuk keranjang sampah. Guru bukan dewa yang selalu benar dan murid bukan kerbau”. Tidak banyak yang tahu tulisan ini ditulis oleh Gie ketika dia masih berumur 14-15 tahun mampu menulis kalimat setajam ini kalau bukan disebabkan oleh kekecewaan yang teramat dalam kepada gurunya. Tanpa disadari barangkali kita (guru) adalah salah satu sosok yang menyebabkan kekecewaan seorang siswa seperti Soe Hok Gie. Ada baiknya tulisan Gie ini menjadi perenungan bagi guru jika tidak ingin meninggalkan kesan buruk diingatan para siswanya.

Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Jadwal PPDB Online SMKN 3 Batam

Pendaftaran Peserta Didik Baru (PPDB) Jenjang SMA/SMK akan dibuka mulai tanggal 29 Juni s.d 3 Juli 2020. SMK Negeri 3 Batam membuka PPDB secara Daring/Online 100% pada Tahun Ajaran 2020

26/06/2020 12:48 WIB - Administrator
'Jemput Bola' Perekaman KTP-el dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Batam

          Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Batam mempunyai program Perekaman KTP-el secara mobile (Jemput Bola) ditujukan untuk

17/02/2020 11:13 WIB - Administrator
Pelaksanaan Upacara Bendera di SMK Negeri 3 Batam

Cara untuk mengenang dan menghormati jasa para pahlawan yang paling sederhana yaitu dengan mengikuti upacara. Para siswa siswi berbaris sekaligus melatih kedisiplinan dalam waktu kurang

10/02/2020 11:15 WIB - Administrator